Minggu, 06 Februari 2011

RINDU UNTUK SAHABAT


Rindu, untuk Ida Heryati dan Tika Januarti

aku mencium harum dirimu, Dinda
menyeruak  dari sela-sela rambutmu, karna itu
coba kugapai
ingin kupilin-pilin rambut panjangmu
kulaju, melintasi hamparan jarak

aku menantikanmu, Dinda
segelas air jeruk menemani
oranye, seperti kisah kita di masa silam
dalam warna masa kanak-kanak yang bersahaja

kucari anggunmu dalam senyuman manis
gelak tawa dan canda
detik demi detik, hingga
waktu memengal perjumpaan, kau
tetap dalam bayang-bayang

kau tahu, Dinda
rindu masih berjatuhan
dari kuku jari-jariku, entah
sampai kapan

Langit Lembang, 24 Mei 2010

surat cinta untuk TJ: payung


PAYUNGMU YANG BERGAMBAR BUNGA SAKURA
Selamat siang, TJ

Hujan baru saja reda. 

Bekasnya belum mengering. Masih menggenangi pekaranganku. Membuat becek, dan noda. Ah, baiknya kubiarkan saja. Aku tak berniat membuatnya kering seketika. Aku percaya, seiring waktu dan tatapan matahari, basah perlahan  akan menguap. Alami, dengan sendirinya.
Kau tahu, musim penghujan terkadang membuat kita jadi serba salah. Hujan  terlalu lama dan deras, menahan kita untuk bepergian. Terkungkung, hanya diam di tempat. Kemudian, tanpa disadari, kita merindukan musim kemarau. Padahal sama saja. Ketika akhirnya datang, musim kemarau  membuat tubuh menjadi kering, kusam, dan haus. Malahan  membuat kepala pening. Terlebih  kemarau teramat panjang, membuat suntuk.

Saat hujan seperti ini,  aku  rindu dirimu. 

Sangat. Terutama pada sejumlah kenangan yang kita lalui bersama di saat hujan. Seringkali karena malas membawa, kau pinjami aku payung. Biasanya karena telah larut dan harus pulang. “Nih, makanya bawa payung, jadi enggak keujanan.” Begitu katamu, bernada marah tak serius. Aku cukup membalasnya dengan tersenyum. Tak apalah dimarahi, toh payungmu tetap kupinjam juga.
 Payungmu (yang bergambar bunga sakura)  memang telah beberapa kali  menyelamatkanku dari derasnya hujan. Setidaknya, tak terlalu kuyup. Payung yang selalu menghuni tasmu, tak perduli akan hujan atau terik. Hingga akhirnya, di kemudian hari, ingatanku akan  payung acapkali menyadarkanku untuk tak usah pergi jika tak bawa payung. Ah, dirimu dan payung itu…makin kukenang.

Pekaranganku belum lagi kering benar, malah sepertinya akan hujan lagi. 

Aku ingat. Ketika dulu terjebak di ujung gang. Berdiri, meneduh di emper warung rokok Pak Nana. Kau tahu, sayang. Alangkah menjemukan menunggu hujan reda entah sampai kapan. Ada beberapa orang waktu itu, semuanya lelaki. Sebagian melewatkan dingin dengan mengisap rokoknya dalam-dalam. Lainnya bersidekap dengan pandangan menerawang, entah memikirkan apa. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Pak Nana sendiripun sembunyi saja di dalam warungnya sambil mengisi teka teki silang. Kelihatannya sedang malas untuk bekomunikasi.  Tak usah kutandaskan bahwa waktu itu amat kedinginan.
Lalu tiba-tiba  sang penyelamat itu datang. Kau menjemputku, dengan payung itu. Entah, mungkin semacam ilmu telepati atau kemistri atau  apa namanya. Acapkali, ketika wajahmu melintas dalam pikiranku, aku amat meyakini terjadi juga hal  sebaliknya (Seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Ketika ingat dirimu, maka ponselku akan bergetar. Muncul namamu dalam layar).
“Berani- beraninya pergi gak bawa payung!”. Begitu kau memarahiku. Selanjutnya, kalimat-kalimat lain berhamburan sepanjang gang yang kita lewati hingga menuju rumahmu. Aku menahan tawa. Tahukah kau?  Waktu itu  suaramu terdengar lebih mirip bunyi radio yang batrenya hampir habis dengan lagu yang itu-itu saja. Kadang suaranya keras kadang tak terdengar. Tak tahu apalagi yang kau ucapkan saat itu, aku sudah lupa. Seperti biasanya, aku tak perduli. Pikiranku telah terlebih dahulu dipenuhi bayangan  kasurmu yang menggeletak di lantai, hangatnya selimut tebal, dan camilan yang selalu ada di mejamu bersama setumpuk novel kesukaanmu. Selain itu, tentu saja yang amat  kurindukan hingga kini adalah secangkir kopi susu hangat yang kemudian kita nikmati bersama, secangkir berdua…

Hujan dan payungmu yang bergambar bunga sakura. 

Kemarin, aku sengaja melintas di warung rokok Pak Nana. Di ujung gang bekas rumah lamamu. Kuamati warungnya,  empernya, masih seperti dulu.  Tak ada yang berubah. Kuberdiri sejenak. Menikmati mengenang saat-saat indah itu. Betapa meluapnya kegembiraanku tatkala kuberpayung denganmu. Menembus, melabrak hujan  deras. Guyuran air hujan terasa membasahi ujung celana panjangku, lengan kemejaku, sandal kita, juga rokmu yang berwarna ungu. Kuingat,  diam-diam aku bahkan berterima kasih telah turun hujan.  Sungguh, amat  kunikmati suasana hujan kala itu. Begitu mengasyikan….Tapi sudahlah, aku tak berani berlama-lama. Harus segera pergi karena betapapun lamanya kumenanti di sana, kau bahkan tak kan sempat menjemputku..
Masih hujan dan payung.
Yang satu membuat basah, satunya lagi untuk melindungi agar tak basah. Nampaknya bertentangan, tapi berpasangan. Selalu ada dalam kesempatan yang sama. “Sedia payung sebelum hujan”, begitu bunyi ungkapannya. Ah, kulihat dimana ya tulisan itu? Di buku-buku SD, di toko barang kelontong, tertera pada stiker, di…ah, di banyak tempat barangkali. Tapi yang jelas, tulisan itu bersemayam dalam hatiku sejak aku selalu bersamamu.
Bicara soal berpasangan, kita memang bukan pasangan. Kita tak pernah mengakui menjadi pasangan, begitu katamu. Dalam beberapa hal kita memangmemiliki perbedaan. Tapi sekalipun begitu, kita tak berniat untuk membuatnya menjadi seragam, bukan?.
Aku menghargaimu jika tetap fanatik dengan warna ungu. Sungguhpun dalam keyakinanku warna ungu melambangkan keangkuhan, dingin dan sulit diajak berkomunikasi. Aku tak pernah keberatan jika  kau putar musik klasik di kamarmu. Musik yang terasa monoton jika diputar terus menerus, sanggahku. Kau bahkan juga bilang menyukai film horror. Benar-benar  selera yang aneh untuk gadis secantik dan selembut dirimu. Tapi apapun, bagiku setiap pribadi berhak memiliki perbedaan dengan diriku.
Hingga akhirnya kita menyadari bahwa hal-hal itulah   yang membuat kita tetap bersama. Saling menghargai. Kau adalah dirimu, dan aku adalah diriku, tanpa memperuncing sejumlah perbedaan.

Begitu sibuknyakah engkau? 

Selamat menuai hari yang selalu sibuk, Sayang..Ketika menelepon, kau katakan harimu begitu padat. Banyak pekerjaan harus dilakukan, sejak fajar hingga larut. Memang, dengan begitu banyak status sosial yang kau sandang, tentulah menyibukkan. Tak punya banyak waktu, bahkan untuk melihat album foto  kita sekalipun. Kau juga mengabarkan sedang bekerja keras untuk mengejar impianmu, sesuatu yang amat kau idamkan sejak dulu. Sebuah cita-cita yang aku meyakininya akan dicapai olehmu, suatu saat, mungkin tak berapa lama lagi.
“Tak usah dipikirkan, hanya untuk kau pahami,” begitu ucapmu suatu kali. Tahukah kau, ungkapan tersebut mengandung ribuan makna, bagiku. Sangat tidak mungkin aku mengabaikanmu. Sejak dulu, sungguh, aku sangat memahamimu. Tanpa kau minta, selamanya. Sampai kapanpun. Tapi sebuah pemahaman  tak bisa muncul begitu saja tanpa adanya  penjelasan, sanggahku.
Aku masih berharap kau mengijijkanku mengintip   dari lubang kecil di jendelamu untuk mensyukuri sejumlah kesibukan yang tengah membuatmu bahagia. Menurutku cukup adil karena aku tak mengganggu aktivitasmu, bukan?
Sekali lagi, aku terus berupaya memahamimu. Karenanya, meski sangat ingin berbagi, aku tak kan membebanimu dengan menceritakan betapa derasnya hujan mengguyur pekaranganku. Bahkan, telah melongsorkan beberapa bukit di sebelah sana…

Hujan baru saja reda, tapi tidak dengan rasa dinginnya…

Hujan selalu menyisakan hawa dingin. Apalagi di puncak bukit. Tepatnya di ketinggian yang dikelilingi pepohonon dengan sisa air hujan masih menggelayut diantara ranting dan daun-daunnya. Dapat kau bayangkan, aku berada di sana!
Sedianya, hati kecilku ingin meneleponmu. Tapi kabarnya, sinyal di tempatmu tak begitu baik. Sinyal yang tak stabil selalu menghasilkan jawaban sms yang permanen: “Iya, terima kasih”. Ah, sinyal yang menyebalkan!
Oleh karenanya, dengan berat hati, hanya bisa kukabarkan padamu: dari jendela kamarku, langit Lembang berwarna abu pucat. Arak-arakan mobil lalu lalang pergi dan pulang dari jantung kota Lembang. Kota yang menawarkan romantisme karena kesejukannya, kata sebagian orang. Sembari menatap panorama Bandung, dan genting-genting rumah yang nampak dari sini: Selamat siang, Sayang... Sedang apa disana?
Sejatinya hari ini adalah ulang tahunmu. Kusampaikan doa tulus dari lubuk hati yang paling dalam: semoga kau selalu bahagia di sampingnya……

Langit Lembang, februari 2010
“Kau dengan dirimu saja, kau dengan duniamu saja.., teruskanlah…’
dari AGNES MONICA: teruskanlah..

memperingati Ulang tahun TJ, 15 Januari 2010

surat cinta untuk TJ: Novel


surat cinta untuk  TJ: Novel
oleh Nani Sulyani Karyono pada 14 Februari 2010 jam 8:12


Selamat pagi, TJ
Minggu pagi ini langit tak biru benar. Sedikit abu-abu  membias, namun cukup menghangatkan lembabnya udara Lembang  sejak beberapa hari lalu.

Aku rindu dirimu.  
Aduh, sepagi ini sudah rindu ya?  Entah, seringkali rasa rindu muncul begitu saja bila bertemu warnamu: ungu. Tak bisa kuelakkan, meskipun saat ini tengah kugenggam warna lain, oranye misalnya.

Apa kabar dirimu sekarang?  Sehatkah?
Aku tak hendak membayangkan dirimu berubah jadi bertubuh tegap dan berdada bidang (atau mungkin antara ingin dan tak ingin). Ah, biar saja. Tak kuhirau bila dirimu tetap hadir dalam wujud yang ringkih. Toh dalam imajiku terdalam, kau tetap perkasa. Tetap mampu merengkuh, memeluk diriku, bahkan  menahan  guncangan bahuku tatkala menahan isak.

Minggu pagi ini kuingin mengajakmu menyeruput secangkir kopi susu. Kau ingat,  aktivitas ini sering kita nikmati di saat senggang.  Karena itulah, tiap kali kutemukan waktu senggang mesti kucari secangkir kopi susu.  Anehnya, untuk secangkir kopi susu, kungin mereguknya berdua, hanya  denganmu saja.

Membuatmu heran, bukan?  Makin takjub, karena akhir-akhir ini kuingin melakukannya hampir setiap hari. Sungguh, sebuah  pilihan yang tak masuk akal.  Benar-benar tak kupahami  alasannya hingga sekarang.

Begitulah, cintaku.
Seperti yang kau kenal, aku memang seorang pemaksa. Amat keras kepala. Maunya semua kebutuhan terpenuhi.  Maunya semua orang tunduk  pada perintahku. Tak jarang kau mengomel karena kelakuanku ini. Menyebalkan, umpatmu suatu kali.

Ya, bila sedang  muncul penyakit ndablek-ku, maka serta merta kau akan berseru: “Ih, dasar kamu ini, Koem….!!”.

Karena untuk mendapatkan segala keinginanku, acapkali kulakukan dengan berbagai cara. Aku akan tampil dengan wajah memelas,  menatapmu . Memohon dibolehkan. Kemudian, aku mulai beragumen. Mencari-cari alasan, apa saja kukatakan agar kau meloloskan  permintaanku.

Apabila menurutmu permintaaanku sudah keterlaluan, maka  kau tetap teguh pada pendirianmu. Berkata tidak. Sementara aku tetap memaksa. Bila sudah kehabisan akal menghadapiku,  kau akan bersikap diam. Meninggalkanku,  melakukan aktivitas lain.  Sampai akhirnya aku berhenti merajuk dan berkata: “ Baik, aku menyerah.  Takkan kulakukan hal itu. “ Lalu kembali kureguk kopi susu buatanmu.

Apa kabar dirimu yang ringkih?
Pabila mungkin, ingin kuhabiskan minggu ini mendengar resensimu tentang novel yang kemarin kau baca. Pasti mengasyikkan. Kujamin kau ahlinya dalam hal ini. Biasanya, kusimak  sembari berbaring di kasurmu yang tergeletak begitu saja di lantai. “Siapa saja tokohnya ?”.  “Bagaimana dia bisa jatuh cinta pada pada si gadis bodoh itu?”  Pertanyaan itu meluncur lancar dari bibirku diiringi  pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mulutku pun tak henti mengkrauk cemilan yang kau sajikan. Hingga akhirnya kau menamatkan dongengmu, melengkapiku  tidurku yang  pulas. (Ah, lagi-lagi pilihan yang saat ini tak mungkin terlaksana, meski amat kurindu! )

Apakah kau masih melanjutkan membaca novelmu, sayang?  Lama sekali tak kudengar engkau membacakannya untukku.

Kau tahu,  aku pernah amat membenci telepon seluler. Ia begitu tega menciptakan jarak diantara kita. Inginnya kugunting saja bentangan sinyal itu. Biar tak terbaca smsmu:
 “Baca aja novelnya sendiri, bagus kok ceritanya”.

Atau pastinya ingin kuinjak-injak benda persegi itu.  Biar tak terbaca rangkaian huruf  dilayarnya: “ novelnya sudah kau baca, Koem?”


Suatu kali, sempat pula kubanting novel-novel  kirimanmu:  “Belum  juga  kubaca…!!!” teriakku.  Tetapi setelahnya, kumerasa bersalah padamu. Ada yang menggemuruh begitu hebat di dadaku. Darinya  seperti mengalir  lahar panas ke kepalaku. Ke wajahku juga. Menghasilkan tetes air di pori-poriku, merupa keringat. Dingin.

Sejurus kemudian kutengok, novel itu tengah menatapku. Merintih, ada wajah sedihmu di sana. Juga ada air mata. Ah, dirimu dan novel itu. Akhirnya, kupungut lagi novel-novel kirimanmu. Mendekapnya di dadaku.

Saat ini, beberapa capung tengah bercengkrama. Melintas di luar jendela kamarku.  Tampak  pula panorama kota Bandung  amat cerah. Benderang. Menggoda untuk dikunjungi. Tapi tidak, lupakan saja! Sungguh tak berniat kutengok saat ini.

Kemarilah, kekasihku.
Jenguk hatiku. Ia akan berkata: “ aku sangat rindu bercengkrama denganmu, seperti capung-capung itu” .  (Tuhan, lagi-lagi pilihan yang sulit, bukan? )

Tepat pukul delapan pagi. Kucingku si mimi terdengar mengeong, minta makan.

Selamat beraktivitas, Sayang.
Nanti  sore  aku berkunjung. Kutahu kau amat menyukai bunga  anggrek ungu. Akan kutabur  di atas tubuhmu. Agar harum.  Juga  sebotol air mineral yang kubanjurkan agar kau tak merasa kehausan…


Langit Lembang, 14 Februari 2010

"DIALOG PENDEK DI DALAM ANGKOT"


“DIALOG  PENDEK  DI  DALAM  ANGKOT”

Suatu ketika, saya berada dalam sebuah angkutan. Terdengar dua orang anak gadis berusia tanggung sedang mengobrol.

“Apa sih susahnya membuat brownies?” .  Terucap dari mulut  seorang gadis berambut sebahu, bertubuh gempal. Bibirnya mencibir. Dahinya  mengerenyit. Membuat matanya yang sudah sipit hanya tinggal segaris saja.
“Memang kamu sudah pernah bikin?”  Temannya, si gadis berkaca-mata menyelidik.
“Belum sih..belum sempat. Tapi kan tinggal dibaca saja cara membuatnya. Di majalah juga banyak..”
“ Jadi kamu juga belum pernah bikin ???!!! Huuuh…jangan ngomong  dong kalo belum pernah nyoba! Buktikan dulu, kalo sudah sukses baru bilang gampang!”  Seketika ekspresi kesal tampak di wajah si gadis kaca -mata.
                                                                         *******

Cerita di atas  hanyalah  setitik ilustrasi, dari kisah-kisah sejenis yang kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari: menganggap remeh  hasil    pekerjaan  orang lain, yang justru oleh dirinya sendiri belum pernah dilakukan !

Saya jadi teringat kepada anak saya, si bungsu (atau penonton bola pada umumnya)  jika sedang menonton pertandingan bola. Dia akan marah kepada pemain yang melakukan kesalahan dalam pertandingan, seolah dirinya adalah pemain professional…

Lucu, bukan?

Tentu saja kita tidak diharapkan menjadi seperti itu!  Notabene, kita adalah seorang pendidik. Tak dapat dipungkiri, dalam jiwa pendidik sudah seharusnya tertanam  prinsip “tut wuri handayani”.  Terlebih dalam peran/ kapasitas kita baik  sebagai orang tua maupun sebagai guru,  seharusnya dapat menghargai pencapaian yang telah dilakukan oleh orang lain,  meskipun sekecil atau seringan apapun itu.


Selamat pagi,  jangan rikuh untuk  berkarya!





“KEBAHAGIAAN”


                                                                           “KEBAHAGIAAN”

Pagi tadi,  sebuah status fb dari seorang teman,  saya acungi jempol. Begini: “Bukan karena kaya maka seseorang akan bahagia, melainkan kalau seseorang bahagia, maka dia akan lebih mudah mendatangkan rezeki dan akan selalu merasa kaya (Rhenald Kasali)”

Hmm…menarik bukan? Maksud saya menarik kerutan di dahi saya.

Saya tahu ini sepenggal  catatan bijak dari seorang enterpreuner nomor wahid di negara ini. Artinya, catatan ini dibuat bukan oleh orang sembarangan, bahkan boleh jadi dihasilkan  berdasarkan pengalaman pribadi beliau. Oleh  karena itu  maka  saya merasa perlu membacanya berulang-ulang untuk memahami maknanya.

Dalam catatan  tersebut setidaknya ada dua kata kunci yang perlu dicermati, yaitu: “kaya” dan “bahagia”. Agar tak salah menerjemahkan artinya, saya lalu mencarinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Depdikbud-Balai Pustaka.

Dalam kamus tertulis arti kaya adalah “mempunyai banyak harta/uang”. Hanya itu. Betul, tidak ada sisipan kata bahagia di sana. Selanjutnya, kata bahagia artinya adalah “keadaan atau perasaan senang tenteram lahir batin, bebas dari segala yang menyusahkan”.  Tanpa ada penjelasan yang menyinggung soal harta benda.

Tadinya, dalam pemahaman saya, antara kaya dan bahagia terjalin sebuah hubungan yang harmonis. Jika seseorang termasuk golongan kaya, maka akan bahagia. Tapi ternyata Bang Rheinald mematahkannya, bahwa bukan karena kaya maka seseorang bahagia. Beliau menyebutkan kata BUKAN.

Wah, padahal menjadi orang kaya sepertinya dambaan hampir setiap manusia. Punya mobil mewah, tiap saat bisa beli baju baru, ingin perhiasan tinggal menunjuk model terbaru, isi dompet selalu tebal, haduuuh…nikmat sekali hidup ini !  Tapi kok bisa ya beliau membuat pernyataan bahwa bukan itu yang membuat seseorang bahagia. Kalau bukan karena kaya, berarti bisa saja bahagia disebabkan  karena  hal lain. Iya kan?

Nah, disinilah dimulainya kening saya berkerut.

“Sebenarnya karena apa sih seseorang bisa bahagia?”

Seorang teman saya coba menjawab:” karena kita  telah membahagiakan orang lain.”

Tepat. Bahagia dan memberi kebahagiaan merupakan  sebuah hubungan timbal  balik. Seperti ketika kita membeli sebuah barang dengan cara cash and carry. Atau seperti sebuah hubungan yang menghasilkan win-win solution. Gampangnya, seperti ketika mengucapkan assalamualaikum, wr wb.. kemudian dibalas dengan waalaikum salam wr wb…baik yang mengucapkan salam maupun yang membalasnya, keduanya berpahala!

Saya menganggap seperti itulah kebahagiaan, seperti menanam, lalu memanen. Dengan kata lain, berikanlah kebahagiaan pada orang lain, maka kita pun akan bahagia.

Selanjutnya kata bang Rhenald: kalau seseorang bahagia, maka dia akan lebih mudah mendatangkan rezeki dan akan selalu merasa kaya.Betulkah?

Ternyata iya, sangat terbukti, orang yang bahagia  biasanya  cenderung menjadi dermawan. Itu terjadi karena secara naluri kita selalu ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Namun demikian, mungkin anda memiliki pandangan yang berbeda dengan saya. Saya ingin mengajak anda untuk memahami  ungkapan mendatangkan rejeki dengan cara yang lebih sederhana.

Rezeki tak melulu dikaitkan dengan harta benda. Jika rezeki hanya dimiliki orang kaya, dan saya bukanlah orang kaya, maka  apakah tertutup bagi saya untuk mendatangkan rezeki bagi orang lain?  Semoga tidak. Berbagilah rejeki kepada orang lain dengan cara yang sederhana pula. Hal ini untuk  menghindari memberi  makanan atau hadiah  karena didasari ingin bersifat riya. Berbagilah rejeki karena Alloh turunkan rezeki untuk orang tersebut melalui tangan anda.

Bagi saya, senyum yang tulus sudah merupakan rejeki. Pandangan mata yang penuh cinta kasih kepada sesama adalah rejeki. Insya Alloh, jika kita lakukan dengan ikhlas maka perasaan bahagia itu akan datang dengan sendirinya, dan otomatis kita merasa kaya!

Semoga sepenggal uraian ini bermanfaat. Selamat karena hari ini kita telah membahagiakan orang lain!
Terima kasih kepada Bang Rhenald via facebook Iwan Ardhi P.

Langit lembang, 27 Januari 2011